Senin, 24 Maret 2014

HUJAN

Kalo pak Sapardi bilang ada "Hujan Bulan Juni"
aku nulis "Hujan" aja

Baru baru ini aku seperti menemukan secercah pengalaman baru. pengalaman, yang bodohnya baru aku tahu beberapa hari yang lalu. Kamu adalah kamarmu.Yah, sebuah kalimat singkat yang sepertinya sangat tidak bermakna. Tapi kalau kita telusuri sedikit saja, bukan dengan hasil penelusuran melalui pemikiran karena sepertinya itu akan tidak membuahkan hasil, tapi penelusuran melalui tindakan. Coba lihat sekelilingmu, karena aku beberapa hari yang lalu adalah aku yang menemukan puluhan buku di atas kasurku, fotokopian yang seabrek bertebaran di samping bantal, buku yang tidak teratur di lemari seperti ingin mendesak keluar menghancurkan setiap mata yang melihatnya, kardus sepatu dan kardus laptop yang berada di pojokan kamar disertai sarang laba-laba yang sudah menebal, kolong kasur yang penuh sampah, laptop, hand phone, dompet di lantai, dan semua yang membuat seseorang, bahkan si pemilik kamar, enggan untuk memasukinya.

Yap, mungkin kalian akan mengatakan, wajarlah seorang laki laki "kisruh" seperti itu. Itu selalu ada di pikiranku selama ini. Bayangkan, masuk kamar, melihat semua berantakan, lalu berpikiran "ah sudahlah, sudah capek ini, besok saja" kemudian membuang dompet, hape, dan lain sebagainya ke lantai, lempar tas ke pojok kamar, dan tidur. Ketika bangunpun hanya meletakkan fotokopian agar sedikit rapi, buku buku kutumpuk, namun itu semua "tetap di kasur" dan aku merasa sedikit bangga dan berkata "haha".

Semakin lama, ibuku memarahiku untuk membersihkan kamarku, semakin malas aku membersihkannya, sampai suatu saat dimana aku jatuh stuck ke lubang paling dalam, hidup hanya dalam dekapan kasur. Pagi, siang, sore, malam. Jenuh.

Sebenarnya itu hanya sebuah pelampiasan, gimana enggak cobak ?!. Aku pengen menyelesaikan novel pinjaman dari temenku tapi kenyataannya gak kubaca-baca (terlena oleh kasur). Aku pengen olahraga gara gara udah lama gak olahraga tapi kenyataanya (terlena oleh kasur). Aku pengen baca Al-Qur'an juga, akhir akhirnya cuma sebentar (terlena oleh kasur).

Sampai pada suatu sore. Aku bangun karena capek tidur, keluar rumah, ke halaman belakang. Menenangkan diri, melihat rintik hujan, mendengarnya, dan mersakan kelembutannya #aish.
Hujan kala itu seperti sebuah jawaban dari atas sana, aku bangkit menuju kamarku, duduk termenung di lantai. Dalam hatipun aku merasa bahwa "aku harus mengubah kamar ini". Kukeluarkan semua buku di lemariku, kuturunkan buku buku di atas kasurku, kutata ulang berdasarkan jenis. Novel dan bacaan ringan di bawah, buku pelajaran  di atas, rak tengah kuisi dengan buku catatan dan buku lainnya. Aku merasa seperti menata hidupku ketika melihat lemariku, aku seperti merasa aku tidak akan perlu susah lagi mencari barang barangku di lemari ini, seakan akan kemalasanku terhadap lemariku terangkat, dan badanku yang telah "capek tidur" pun bersemangat. Kulanjutkan kesemua sudut ruangan kamarku. Kuturunkan fotokopian, kubuang yang tidak lagi berguna, kubuat semua mudah kucapai, tanpa penghalang tapi rapi. Karena aku sadar, ketika terdapat penghalang, maka aku tidak akan kembali membuka fotokopian tersebut. Kupilah semua yang ada, carrier dengan tas, solder dengan obeng, dan lainnya yang sepergunaan.

Yap terakhir, ketika kusapu kamarku. Kulihat debu yang sangat tebal di sapu yang kugunakan, "aku hidup diantara debu-debu ini" pikirku. Kukibaskan sprei kasurku dan kutata ulang, tentu saja tanpa buku dan fotokopian diatasnya kali ini. Dan kurasakan, damn!, aku di hotel sepertinya. Pikiranku pun tenang, tidak seperti biasanya yang selalu grusa-grusu. Dan sejak saat itu aku tersadar.

Aku sadar bahwa kamarku merepresentasikan diriku. Ketika kamar kita berantakan, maka sadarlah bahwa dirimu sedang tidak berada pada tempatnya, bersihkan kamarmu. Jagalah kondisi kamarmu tetap bersih dan rapi, karena "an nadhoofatu minal iiman", yang artinya kebersihan itu sebagian dari pada iman. Stay it clean mabro! maka kamu akan selalu mendapatkan dirimu. Ingat! kamu adalah kamarmu.

Hujan

Suara merdu
Turun menenangkan
Membasahi hati
Menghapus kelelahan
Menumbuhkan keyakinan

Desir rintik
Sore hari
Mengelus jiwa
Membuang luka
Memasang asa

Ini hujan

Bukan hujan bulan Juni
Bukan juga hujan bulan ini
Ini hujan di dalam diri
Ini hujan yang membersihkan hati

Selasa, 3:25 dini hari
Kontrakan rungkut

Unknown

Sebenernya nggak tau mau nulis apa. tapi ya begini, tangan gatel banget.
oh iya, kubuka dulu dengan salam.


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Yap, pertama saya sangat jarang sekali menulis di keyboard. Soalnya nulis pake pulpen atau pensil itu emang yang paling nikmat dari yang lainnya.
Kedua, kalau saya nulis gak jelas pake keyboard itu pasti hasil tulis ulang dari apa yang sudah kutulis di secarik kertas. Kalo tugas kan langsung ketik, jadi bukan termasuk tulisan gak jelas.
Ketiga, ya ini tulisan ga jelas pertamaku yang kutulis pake keyboard.
Keempat, gak jelas banget sumpah.
Kelima, sumpah lagi boring banget, stuck, pokoknya pengen keluar.
Keenam, numpang nulis kata kata aja deh, daripada stress.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Selasa, 04 Februari 2014

Pemimpin

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ini tulisan perdanaku di blog ini. Karena yang sebelumnya merupakan puisi ku yang telah lalu, yang merupakan hasil korek mengorek arsip lama kemudian kutampilkan kembali di sini.


Sebuah pertanyaan datang dari seorang teman

menurutmu pemimpin yang baik buat negeri itu kayak gimana?

Sebuah pertanyaan yang membingungkan, tapi mengingat ada seseorang sosok yang sangat kujadikan panutan, ayahku, maka pikiranku entah terbang kemana sehingga bisa menuliskan beberapa coretan aneh yang itu semua berdasarkan pandanganku terhadap ayahku.


Pemimpin negeri yang baik itu dia yang memikirkan bagaimana negara tersebut berkembang tidak dalam jangka pendek saja, tidak dalam waktu kepemimpinan mereka saja. tapi jauuh. jauuuuh kedepan, 40-50 tahun kedepan. akan menjadi apa negara ini jika dimulai dari gerakan yang akan ia mulai. harus memiliki pondasi yang kuat, arah yang kuat untuk bisa mewujudkan pemikiran jangka panjangnya. 

Sehingga tidak hanya memberikan janji janji, tetapi memasang tujuan yang pasti. dan yang terpenting, memasang dasar pemikiran dan perbuatan yang mana dengan itu membuahkan hasil untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya, dan terus mengarah menuju tujuan jangka panjangnya itu.

Tetapi tidak bisa seorang pemimpin negeri membuat tujuan jangka panjang tanpa membuat alurnya terlebih dahulu. ia harus membuat blueprint perjalanan negeri tersebut dalam pikirannya. jika tidak sama saja tai kebo alias bullshit. karena tanpa blueprint, atau bisa dikatakan dengan "apa yang akan ia lakukan kelak" maka ia tidak akan bisa memimpin, tidak akan memiliki tujuan, lontang lantung seperti saat ini, hanya mengikuti alur, seakan akan adanya ia seperti tiadanya ia, hanya menjadi simbol negara.

Namun blueprint saja tidak cukup, perlu keberanian, kekuatan, pendirian, dan tindakan. Yap, tindakan. karena tanpa tindakan, akan percuma alur yang ia buat, itu hanya menjadi sebuah janji palsu yang tidak menimbulkan harapan awal dari tujan akhir yang ia inginkan. tanpa tindakan, maka tidak akan ada dasar, tanpa dasar maka tidak akan ada tujuan akhir yang telah ada di blueprint yang telah ia buat. hanya ilusi. kembali lagi ke kata ini. bullshit.

Jadi kesimpulannya, pemimpin yang baik adalah:
  1. Memiliki blueprint apa yang akan ia lakukan dalam jangka pendek (masa kepemimpinannya) hingga jangka panjangnya (setelah kepemimpinannya).
  2. Adanya keselarasan dalam blueprint yang ia buat, dimana jika ia melakukan sesuatu pada masa kepemimpinannya itu (jangka pendek), maka itu akan terus dibutuhkan sehingga akan terus berkembang menjadi seperti yang akan ia idamkan pada realita jangka panjang. contoh :
    • menggalakkan peningkatan akhlak > masyarakat beradab.
    • menggalakkan pendidikan > negera yang intelek, masyarakat cerdas dan beradab.
    • meningkatkan pembangunan > negera maju, yang dibangun oleh masyarakat yang cerdas dan beradab.
  3. Adanya tindakan yang berani untuk merealisasikan pendiriannya. ia harus tegas melawan yang salah, melawan orang yang tidak sepaham dengannya, melawannya pun harus dengan cerdas sehingga lawan pun berpihak kepadanya, dan memiliki semangat berapi-api yang akan membawa lawan, pemerintahan, dan masyarakatnya ikut dalam gelora semangat yang ia kobarkan. ya, pemimpin yang harus menjadi tokoh yang tegas seperti Bung Karno, cerdas seperti Pak Habibi, berapi-api seperti Bung Tomo.


Huft, seperti menikam diri sendiri mengatakan hal seperti ini. Hanya bisa berkata namun belum berbuat. mohon doa dari para pembaca agar layak menjadi pemimpin. Pemimpin yang membawa perubahan

Terima kasih telah membaca
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Cinta Kata Orang

Kata orang, cinta itu buta
Walaupun membawa kebahagian
Ia tetap membawa kesedihan
Walaupun katanya sampai mati
Ia selalu membuat gundah hati
Kata orang, itu namanya asmara

      Dunia begitu adil, dengan semua keindahannya
      Ada yang namanya kasmaran
      Ada yang namanya marahan
      Dunia begitu adil, penuh intrik di dalamnya

Putus itu akhir dari sesuatu yang nyambung
Tamparan itu akhir dari belaian
Air mata itu akhir dari kasih
Campakan itu akhir dari ketulusan

     Tapi itu semua kata orang !

Aku ingin mencoba !
Ya .... !
Mencoba cinta !

                 Aku ingin merasakan semua indahnya !
                 Aku ingin mengatakan kepadamu
                         Engkaulah permata hatiku
                         Engkaulah sang kekasih yang terus ada di dalam hatiku
                 Dan gombalan - gombalan lainnya

       Jadi, maukah kau terima cintaku
       Untuk yang pertama dan terakhir kalinya

                                                 Long Time Ago

Mata Hati

hidup
Mata merah
tua tak terbayang
Saat mereka membuka hatinya

Apalah daya diri ini
Ketika cahaya menjadi kegelapan
Saat membuka mata hanyalah hitam

Hanya diberi dua pilihan;
-diam
-berusaha

diam menunggu kepastian
berusaha mencari kebenaran

                                      Long Time Ago